Bank dan Fungsi Intermediasi

Buat anda di sini yang sampai usia lulus kuliah masih mengira bahwa sebuah institusi yang bernama bank hanyalah tempat di mana kita menabung uang kita, di mana yang bekerja di sana hanya teller, customer service, dan orang-orang yang ada di back office nya berarti anda sama dengan saya. Ya! Anda sama seperti saya. Mungkin tepatnya adalah sebagian besar dari kita memang tidak pernah memikirkan tentang hal itu sampai kita beranjak dewasa dan memasuki dunia kerja.

Sebagian besar dari kita, ini juga hipotesa saya, bahkan mungkin sampai sekarang tidak pernah mengerti apa itu kliring, inkaso, rekening koran, RTGS, cek, bahkan bilyet giro (BG) dan lain-lain yang ada di bank selain dari setoran tunai, tarikan tunai, ATM dan transfer. Padahal bank adalah sebuah institusi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Sedemikian pentingnya bank sehingga krisis yang terjadi pada sebuah bank skala nasional bisa menarik bangsa ini juga ke dalam krisis keuangan. Dunia perbankan juga adalah dunia yang diatur dengan regulasi yang sedemikian ketatnya oleh Bank Sentral di tiap negara. Kegagalan bank sentral mengatur bank-bank yang beroperasi di wilayah otonomi nya, bisa menimbulkan resiko sistemik yang dapat menyeret suatu bangsa ke dalam krisis berkepanjangan seperti yang kita lihat pada krisis keuangan tahun 2008 yang di mulai di Amerika Serikat.

Saya tidak akan menjelaskan semua istilah-istilah di atas dan efek sebab dan akibat krisis yang bisa diawali dari kegagalan suatu bank menjaga kepercayaan nasabahnya pada kesempatan kali ini. Namun saya ingin mencoba mengenalkan fungsi utama dari suatu lembaga keuangan bernama bank, selain dari tempat masyarakat menabung uangnya baik dalam bentuk tabungan maupun deposito (saya yakin yang menjawab tidak tahu bahwa ada produk dasar lain di bank selain dua yang saya sebutkan di atas juga tidak sedikit). Fungsi tersebut adalah fungsi intermediasi. Sebuah fungsi yang diatur sedemikian rupa dalam berbagai macam peraturan oleh Bank Indonesia sebagai regulator untuk dunia perbankan di Indonesia.

Saya akan memulainya seperti ini. Bayangkan anda membuka toko kelontong. Bagaimanakah anda mendapat untung? Tentu dengan menjual barang dagangan anda lebih tinggi dari harga anda membelinya. Selain itu anda juga harus menghitung “gaji” anda/karyawan anda yang menunggu di toko anda dalam komponen biaya, di samping biaya-biaya lain seperti uang listrik, telpon, transport untuk melakukan pembelian barang dagangan, dll. Jadi di sini prinsip nya sesimpel “jual dengan harga lebih tinggi dari harga beli untuk segala jenis barang yang ada di toko anda ditambah dengan biaya-biaya operasional tadi.” Tentu prinsip ini bisa berbeda dalam penerapan nya di pasar-pasar modern (baca: mini market/supermarket/hypermarket) yang memang memiliki model bisnis yang lebih kompleks.

Lalu analogikan hal tersebut dengan anda sebagai pemilik bank. Barang apakah yang anda perdagangkan? Yup! Uang! Bank menjalankan bisnis “berjualan uang” dengan “membeli” uang para deposan (istilah yang digunakan secara umum dalam perbankan untuk menyebut orang-orang yang menaruh uangnya di bank) yang lazim disebut dana pihak ketiga, lalu “menjual” nya ke orang-orang yang membutuhkan dana tersebut. Selanjutnya para deposan biasa disebut sebagai kreditur, sedangkan para peminjam disebut debitur.

Apa saja yang dibayarkan oleh bank untuk membeli uang deposan? Banyak sekali tentunya. Yang paling jelas adalah bunga yang dibayarkan ke setiap deposan setiap periode, bisa harian, bulanan, tri wulanan, maupun per tahun. Namun angka yang dikenalkan ke masyarakat adalah angka suku bunga per tahun.

Lalu seperti toko kelontong tadi, apa saja biaya operasional bank? Tentu jauh lebih kompleks dari sekedar gaji karyawan dan biaya listrik, telpon dll. Bank sebagai institusi yang dipercaya oleh masyarakat untuk menyimpan uangnya, harus membangun reputasinya agar bisa dipercaya oleh masyarakat. Reputasi tersebut bisa dibangun melalui membangun imej perusahaan yang menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, kampanye-kampanye yang dilakukan bank untuk penetrasi ke pasar yang sesuai dengan segmen-nya, maupun melalui kegiatan-kegiatan Corporate Social Responsibility yang rutin diadakan oleh bank-bank papan atas. Semuanya itu tentu adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank. Selain biaya dalam membangun reputasi bank tersebut, diperlukan juga biaya untuk investasi IT, suasana cabang yang nyaman, peningkatan Service Quality untuk nasabah dan lain-lain.

Dari seluruh gabungan biaya tersebut termasuk biaya bunga tadi, maka bank memiliki ”modal” nya. Modal tersebut ditambahkan dengan margin keuntungan yang ingin diperoleh, maka didapatlah suku bunga pinjaman yang akan diberikan kepada krediturnya.

Bisnis beli uang – jual uang itu lah cara bank mencari untung untuk pemiliknya. Lalu apa hubungan nya dengan fungsi intermediasi? Fungsi intermediasi mempunyai arti memediasi antara debitur dengan kreditur tadi, antara nasabah yang memiliki dana untuk ditabungkan dengan nasabah yang kebetulan membutuhkan uang untuk berbagai macam keperluan. Orang-orang yang memiliki uang menabung di bank, di sinilah bank menjalankan fungsinya dalam mencari dana masyarakat. Lalu dana yang dikumpulkan dari masyarakat tersebut bersama dengan modal perusahaan digunakan untuk memberikan pinjaman kepada nasabah-nasabah yang membutuhkan. Prosedur untuk mendapatkan pinjaman tentu saja tidak semudah prosedur dalam membuka rekening di bank untuk keperluan menabung atau bertransaksi.

Inilah yang disebut fungsi intermediasi tadi. Connecting between funding and lending business. Dalam prakteknya untuk melihat jalannya fungsi intermediasi suatu bank adalah dengan melihat rasio LDR (Loan to Deposit Ratio)-nya. Berapa banyak pinjaman yang diberikan dibandingkan dana pihak ke tiga yang masuk dalam neraca bank.

Nah, di sinilah mulai terlihat bahwa bank bukan hanya apa yang ada di depan cabang saja. Secara garis besar, memang yang diketahui oleh sebagian besar masyarakat umum adalah bank merupakan tempat menabung, dan bertransaksi pembayaran baik dalam pembayaran listrik, telpon, dan lain-lain. Padahal dari uraian di atas jelas bahwa bank yang kita kenal selama ini hanyalah satu sisi saja, funding. Sedangkan untuk lending, dan fungsi-fungsi yang lain? Masih banyak tentunya fungsi-fungsi yang ada dalam sebuah institusi bernama bank. Di lain kesempatan akan coba saya bahas sedikit demi sedikit mengenai bank.

Selamat mengerti!

Hendrik Komandangi
Advertisements

4 responses to “Bank dan Fungsi Intermediasi

  1. tulisan yg keren…jgn lupa lanjutkan..hwhww
    emg cara kerja bank it rumit2 simple, rumit wat yg blom ngerti tp stlh dipelajari ya bs jd simple krn sbnrnya bank ambil cuan nya dr selisih kredit dgn bunga depo….
    simple tp luar biasa (khususny di indo) krn sbagian bsr bank laba ny brtumbuh tiap thn dgn bagus…
    sampe kuartal k3 ini, laba BCA sktr 8 triliun, mandiri tembus 11 triliun, BRI blom kluar laporanny tp yg jelas bkal lbh gede lg labany dr bca n mandiri…
    luar biasa kan…hehe

  2. Artikel yg menarik dan menambah pengetahuan utk org awam seperti sy.
    Bicara mengenai bank, beberapa waktu lalu beberapa bank berlomba-lomba utk membuat “fasilitas” Bank Syariah di masing2 bank. Yang menjadi pertanyaan sy apakah memang “fasilitas” Bank Syariah ini adalah merupakan bentuk komitmen pelayanan sebuah bank? Atau hanya sebuah strategi marketing utk mendapatkan nasabah sebanyak-banyaknya? Atau yg lebih parah ini merupakan syarat yg hrs dipenuhi oleh bank baik itu bank pemerintah / bank swasta yg berbasis di Indonesia?
    Mohon pencerahannya dr teman2 yg bergelut di bidang perbankan…

  3. Pingback: BI Checking | Komik Muda·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s