Menjaga Persekutuan Dalam Konteks Sehati Sepikir

21 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. :5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”.

(Filipi 2:1-5)

Hakikat Sekaligus Masalah

Persekutuan orang percaya (Ing: fellowship; Yun: koinonia; hurufiah: berbagi hal yang sama) itu sesungguhnya merupakan hakikat dari gereja. Sebab, persekutuan dengan sesama orang percaya adalah akibat atau hasil dari persekutuan orang percaya dengan Allah di dalam Kristus.

Seperti kata 1 Yoh 1:7, ”jika kita hidup di dalam terang (= persekutuan dengan Allah) sama seperti Dia (= Kristus) ada di dalam terang (= persekutuan dengan Allah), maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain”.

Jadi, persekutuan orang percaya, atau gereja adalah hasil atau bukti bahwa orang-orang percaya telah miliki dan tetap pelihara persekutuannya dengan Allah dalam Kristus. Persekutuannya dengan Allah dalam Kristus itulah yang memampukan mereka mau dan mampu bersekutu satu sama lain sebagai orang percaya.

Seperti kata Yesus, ”Barangsiapa tinggal di dalam (persekutuan dengan) Aku dan Aku di dalam (persekutuan dengan) dia, ia berbuah banyak (termasuk: dapat bersekutu dengan sesamanya), sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (termasuk: tidak dapat bersekutu dengan sesamanya)” (Yoh 15:5). Betapa pun mereka mau, orang percaya nyaris mustahil akan mampu untuk bersekutu satu sama lain, jika mereka tidak miliki dan pelihara persekutuan dirinya dengan Allah dalam Kristus.

Karena itulah, persekutuan orang percaya dapat kita katakan merupakan hakikat gereja. Sebab, hanya dengan itu gereja dapat buktikan bahwa mereka adalah orang-orang percaya yang telah dan tetap miliki persekutuan dengan Allah dalam Kristus.

Namun, persekutuan orang percaya pun sekaligus merupakan masalah dari gereja di segala zaman, termasuk di zaman rasul Paulus, dan di zaman kita sekarang ini. Sebab, ketidak-sempurnaan, atau ”kedagingan” manusia itulah yang selalu mengancam persekutuan orang percaya, atau gereja dengan perpecahan.

Seperti kata rasul Paulus, ”Perbuatan daging telah nyata, yaitu: … perseteruan, perselisihan, … amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, … dan sebagainya” (Gal 5:19-21).

Karena itu, setiap perpecahan dari persekutuan orang percaya, atau gereja menjadi suatu penyangkalan terhadap otentisitas persekutuan orang percaya dengan Allah dalam Kristus. Setiap orang percaya sesungguhnya membutuhkan persekutuan dengan sesama orang percaya justru untuk membuktikan otentisitas persekutuannya dengan Allah dalam Kristus.

Penyebab Umum Perpecahan

Menurut rasul Paulus, ada 3 (tiga) penyebab umum perpecahan persekutuan orang percaya:

Pertama, egoisme, atau pementingan diri sendiri (ay 4, ”janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan-nya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”).

Egoisme adalah suatu pandangan, bahwa nilai baik-buruk (moral) dari segala sesuatu itu ditentukan oleh kepentingan diri sendiri.

Contoh?

– Datang terlambat dalam tugas pelayanan itu boleh-boleh saja buat diri sendiri, tetapi buat orang lain tidak boleh, karena bisa-bisa ia/mereka kita kasih teguran atau sanksi.

– Merokok itu baik-baik saja buat diri sendiri (sekalipun bisa merugikan orang lain), tetapi buruk dan tidak boleh buat orang lain (buat jemaat, apa lagi buat pasangan dan anak-anaknya).

– … dan lain sebagainya

Padahal, Yesus memanggil setiap orang percaya untuk mengikuti teladan hidup-Nya yang memperhatikan kepentingan orang lain lebih daripada memperhatikan kepentingan diri-Nya sendiri, seperti firman-Nya katakan, ”Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28).

Itulah ”pengosongan (baca: penyangkalan pementingan) diri Kristus!”, kata rasul Paulus (Fil 2:5-8, ”Kristus Yesus … walaupun dalam rupa Allah … telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia … sampai mati di kayu salib”).

Kedua, egosentrisme, atau pemusatan kepada diri sendiri (ay 3, ”hendaklah … seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”).

Egosentrisme adalah suatu perasaan tertarik atau peduli hanya kepada diri sendiri, sehingga tidak tertarik dan peduli kepada diri orang lain. Sebab, yang utama dan layak diperhatikan itu hanya diri sendiri, sedang orang lain tidak perlu diutamakan dan diperhatikan.

Contoh?

– Pendapat sendiri inginnya selalu didengarkan, dan marah jika tidak didengarkan, tetapi giliran pendapat orang lain tidak ingin mendengarkan, dan jika orang lain marah, masa bodoh dan peduli amat, emangnya gue pikirin!

– Kebutuhan sendiri (untuk dilayani) inginnya cepat ditanggapi, tapi giliran kebutuhan orang lain (untuk dilayani) ditunda-tunda terus, sampai kelupaan!

– … dan lain sebagainya

Padahal, yang seharusnya menjadi pusat dalam kehidupan setiap orang percaya adalah Allah (yang menyatakan kehendak-Nya) di dalam Kristus, seperti firman-Nya katakan, ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21).

Karena itu, bagi setiap orang percaya, ia tidak pernah cukup hanya percaya kepada Kristus, tetapi – lebih dari itu – ia harus mengikuti Kristus yang mengikuti kehendak Allah di dalam seluruh hidup-Nya di dunia.

Ketiga, gengsi, atau penonjolan diri sendiri (ay 3, ”tidak mencari … puji-pujian yang sia-sia”).

Gengsi itu terkait dengan segala sesuatu yang dilakukan untuk menjaga harga diri atau mencari kehormatan diri.

Contoh?

– Jika diminta mengerjakan tugas-tugas pelayanan yang memberi kepada kita kesempatan tampil di depan jemaat atau umum, kita dengan penuh semangat mau melakukannya, tetapi jika diminta mengerjakan tugas-tugas pelayanan yang tidak kelihatan jemaat atau orang banyak (seperti ikut rapat, hitung uang persembahan, … dlsb) kita tidak bersemangat dan menghindar dengan pelbagai alasan.

– Jika orang lain bersalah kepada kita, kita akan tuntut orang itu untuk mengaku salah dan minta maaf kepada kita, tetapi sebaliknya jika kita sendiri bersalah kepada orang lain, kita tidak mau mengaku salah, apa lagi minta maaf kepadanya. ”Biarlah orang itu tahu sendiri saja dari sikap dan perbuatan saya kepadanya!”, begitu kita katakan.

– … dlsb

Padahal yang seharusnya setiap orang percaya lakukan adalah menjaga dan mencari kehormatan dan kemuliaan Allah dalam Kristus. Seperti kata rasul Paulus, ”Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28).

Kenyataannya, egoisme, egosentrisme dan gengsi yang dilakukan oleh siapa pun (secara pribadi atau berkelompok) di dalam gereja cenderung telah dan akan memecah persekutuan orang percaya. Sebab, ketiga hal itu akan menghalangi siapa pun untuk melayani sesama orang percaya. Sebaliknya, ketiga hal itu cenderung akan singkirkan sesama orang percaya.

Cara Pelihara Dan Kembangkan Persekutuan

Intinya, bersehati-sepikirlah dengan Kristus! Seperti nasihat rasul Paulus, ”hendaklah kamu sehati sepikirmenaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Fil 2:2,5).

Hanya cara Kristus dapat pelihara dan kembangkan terus persekutuan orang percaya, yaitu:

Pertama, menjadikan persekutuan orang percaya tempat dan kesempatan untuk membuktikan persekutuan kita dengan Allah dalam Kristus.

Kristus telah membuktikan, bahwa persekutuan-Nya dengan Allah Bapa-Nya memampukan diri-Nya untuk bersekutu dengan orang percaya kepada-Nya, bukan hanya dari kalangan Yahudi, tetapi juga dari kalangan bukan Yahudi.

Karena itu, benarlah, pernyataan 1 Yoh 1:7, ”Jika kita hidup di dalam terang (= persekutuan dengan Allah) sama seperti Dia (= Kristus) ada di dalam terang (= persekutuan dengan Allah), maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain”.

Benarlah juga nasihat Ibr 10:25, ”Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan sesama orang percaya itu harus berjalan seiring sejalan. Yang satu tidak bisa dan tidak mungkin dilakukan tanpa yang lain!.

Kedua, menjadikan persekutuan orang percaya tempat dan kesempatan untuk menyatakan dan mempraktekkan kasih Allah dalam Kristus.

Kristus bukan hanya mengasihi Allah dan menyampaikan pengajaran tentang kasih, tetapi seluruh hidup-Nya menyatakan dan mempraktekkan kasih-Nya kepada persekutuan orang percaya (”Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya”, Yoh 13:1), bahkan kepada semua orang di dunia (”Anak Manusia … memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”, Mat 20:28)

Karena itu, bercermin dari teladan hidup-Nya, kita pun hanya mungkin mengasihi Allah, jika kita mengasihi sesama manusia, dan mempraktekkannya pertama-tama dalam persekutuan orang percaya. Seperti diingatkan oleh 1 Yoh 4:20, ”Jikalau seorang berkata: ’Aku mengasihi Allah’, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya”).

Kasih yang dilakukan atau dipraktekkan selalu memelihara dan mengembangkan, serta tidak pernah memecah persekutuan orang percaya, karena ”kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia” (Rom 13:10).

Ketiga, menjadikan persekutuan orang percaya tempat dan kesempatan untuk menyangkal diri, merendahkan diri dan menaati kehendak Bapa di sorga.

Seluruh hidup Yesus di dunia, termasuk di tengah persekutuan orang percaya, ditandai dengan penyangkalan diri-Nya, perendahan diri-Nya dan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa.

Karena itu, Ia sendiri boleh menggenapi kehendak Allah yang selalu Ia ajarkan, ”Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

”Itulah sebabnya”, kata rasul Paulus, ”Allah (akhirnya) sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Fil 2:9).

Artinya? Hal yang kurang-lebih sama akan kita alami di penghujung hidup kita, jika kita mau menyangkali diri, merendahkan diri dan menaati kehendak Bapa di sorga di dalam hidup kita, termasuk pertama-tama di dalam hidup kita di tengah-tengah persekutuan orang percaya.

Ya, dengan ketiga cara itulah persekutuan orang percaya kita pelihara dan kembangkan! Sebab, sesungguhnya, lebih dari persekutuan orang percaya membutuhkan diri kita, diri kitalah yang membutuhkan persekutuan orang percaya!

Persekutuan orang percaya adalah salah satu dari anugerah-Nya yang indah dan yang selalu harus kita jaga, pelihara serta kembangkan! Bukan kita pecah-belah!. Biar pun untuk itu, selalu ada harga yang harus kita bayar. Namun, ”the price is really worthy!”.

Jakarta, Jum’at, 16 Nopember 2012

-RT-
Advertisements

One response to “Menjaga Persekutuan Dalam Konteks Sehati Sepikir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s