BI Checking

Pernah meminjamkan uang ke teman atau kerabat? Sebagian besar dari kita mungkin pernah, dengan beragam jumlah dan alasan. Ada yang karena hubungan dekat dengan orang tersebut, ada juga yang karena kasihan. Namun biasanya pertimbangan utama kita untuk meminjamkan uang kepada kenalan kita tersebut adalah karena kita percaya bahwa orang tersebut akan mengembalikan uangnya kepada kita, meski ada juga yang sudah merelakan uang yang dipinjamkannya untuk ‘hilang’ (baca: tidak dikembalikan), dan orang-orang yang sudah rela uangnya hilang ini biasanya hanya memberikan sekedarnya dan bukan sesuai dengan yang diminta oleh si peminjam. Menurut mereka biasanya “balik syukur, tidak balik tidak apa-apa.”

Berbeda dengan orang yang rela ini, kita yang meminjamkan uang dengan tetap berharap uang kita akan kembali, harus percaya bahwa orang tersebut mampu untuk membayar kembali uang yang kita pinjamkan, pada waktu yang mereka janjikan. Pertimbangan kita bermacam-macam, namun biasanya alasan utama adalah kita harus yakin bahwa orang yang kita berikan pinjaman memiliki karakter yang baik (bisa dipercaya) dan memiliki kapasitas yang baik pula dalam membayar hutang kita. Dengan pertimbangan itulah biasanya kita hanya akan meminjamkan uang kita kepada orang yang kita kenal baik, atau setidaknya ada orang yang kita percaya yang bisa meyakinkan kita bahwa orang yang akan meminjam uang kita tersebut memiliki karakter yang baik dan mampu membayar hutangnya pada kita.

Dalam hal ini, karakter dan kemampuan si peminjam menjadi faktor yang penting bagi kita dalam meminjamkan uang kita ke orang lain. Bagaimana dengan Bank, lembaga intermediasi yang memang bisnisnya harus menyalurkan uang yang dipercayakan ke mereka kepada nasabah yang membutuhkan pinjaman? (Selengkapnya mengenai lembaga intermediasi baca: Bank dan Fungsi Intermediasi). Tidak mungkin bank hanya meminjamkan uang ke orang yang dikenal oleh setiap karyawannya, atau manajemennya. Sebagian besar nasabah bank, baik penabung maupun peminjam adalah masyarakat umum, yang percaya bahwa bank yang mereka gunakan jasanya adalah asing bagi pihak bank. Bagaimana bank bisa yakin bahwa mereka meminjamkan uang kepada pihak yang tepat? Yang mampu dan mau mengembalikan uang yang mereka pinjam? Bagaimana bank mengecek karakter calon nasabah peminjam, sebagai salah satu faktor utama dalam analisa pengajuan kredit nasabah?

Tentu saja tiap bank memiliki prosedur masing-masing dalam melakukan penilaian karakter dan kelayakan terhadap calon nasabahnya. Namun setiap bank di Indonesia pasti melakukan hal ini dalam menganalisa calon nasabah pinjamannya, suatu prosedur yang akrab disebut dengan BI Checking oleh praktisinya di dunia perbankan Indonesia. Sesuai dengan istilahnya, BI Checking berarti memeriksa ke Bank Indonesia. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah agar memperlancar proses penyediaan dana (baca: PBI nomor 9/14/PBI/2007 tentang Sistem Informasi Debitur). Dalam peraturan Bank Indonesia tersebut diatur mengenai kewajiban bank untuk melaporkan kualitas kredit setiap nasabah pinjaman yang dimilikinya. Untuk apa dilaporkan? Supaya setiap bank lain yang ingin menyalurkan pinjaman kepada nasabah yang sama, bisa memiliki referensi bagaimana rekam jejak nasabah tersebut di bank sebelumnya.

Apa saja data yang wajib dilaporkan oleh bank dan bisa diakses oleh bank lain di mana nasabah tersebut akan mengajukan pinjaman? Antara lain data identitas seperti nama, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), nomor Kartu Pengenal Penduduk (KTP), alamat, atau nomor akte pendirian, manajemen, pemegang saham dan lain-lain. Selain data identitas tersebut, yang lebih penting adalah data mengenai fasilitas pinjaman nasabah tersebut di bank sebelumnya. Data pinjaman tersebut meliputi antara lain: jenis fasilitas pinjaman (kartu kredit, modal kerja, investasi, kredit konsumsi, Surat Kredit, dll), plafon yang diberikan, pemakaian tertinggi dari plafon yang diberikan, jangka waktu masing-masing fasilitas kredit, jaminan yang diberikan, dan yang terpenting adalah data kualitas kredit nasabah tersebut di bank sebelumnya yaitu kolektibilitas kredit serta besar dan lama tunggakannya (jika ada).

Jika sudah pernah memiliki fasilitas kredit di bank yang ada di Indonesia, maka kualitas kredit nasabah tersebut bisa dilihat pada data kolektibilitas-nya di Sistem Informasi Debitur pada Bank Indonesia tersebut. Kolektibilitas sendiri adalah penggolongan kualitas fasilitas kredit nasabah dalam angka 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) (baca: PBI nomor 14/15/PBI/2012). Data tersebut diperbarui olah Bank Indonesia sebulan sekali pada awal bulan berdasarkan data akhir bulan sebelumnya.

Bagaimana Bank Indonesia menerjemahkan kualitas kredit nasabah dalam 5 tingkatan tersebut? Angka 1 sampai dengan 5 diurutkan sebagai berikut:

–          Kolektibilitas 1 (satu) disebut lancar

–          Kolektibilitas 2 (dua) disebut dalam perhatian khusus

–          Kolektibilitas 3 (tiga) disebut kurang lancar

–          Kolektibilitas 4 (empat) disebut diragukan

–          Kolektibilitas 5 (lima) disebut macet

Angka kolektibilitas tersebut menggambarkan profil resiko dari setiap nasabah peminjam, di mana tentu saja kolektibilitas yang lebih besar (lebih buruk) menggambarkan resiko yang lebih besar. Pada bank yang belum memiliki metode sendiri untuk mengukur berapa besar beban pencadangan atas kredit yang disalurkannya, angka kolektibilitas BI tersebut menjadi patokan utama bank untuk menetapkan jumlah cadangan minimum yang harus dibukukan pada laporan Laba-Rugi bank yang bersangkutan, di mana semakin besar beban ini, tentu semakin kecil Laba bank tersebut.

Dengan demikian bank memiliki kepentingan untuk menjaga kualitas kredit nasabahnya. Semakin baik kualitas kredit nasabah-nasabahnya, maka semakin besar kemungkinan bank untuk mendapatkan laba yang diinginkan.

Lalu, apa kepentingan kita semua untuk mengetahui mengenai hal ini? Tentu saja setelah kita mengetahui bahwa rekam jejak kita dalam meminjam uang di bank dicatat oleh bank, maka kita perlu menjaga pembayaran kewajiban kita tetap lancar pada bank. Sebagai gambaran, tabel di bawah ini menunjukkan kolektibilitas pinjaman kita pada suatu bank berdasarkan lama tunggakan pinjaman yang kita lakukan.

No Kolektibilitas Lama Tunggakan

1

Lancar Tidak ada tunggakan

2

Dalam Perhatian Khusus 1-90 hari

3

Kurang Lancar 91-120 hari

4

Diragukan 121 – 180 hari

5

Macet > 180 hari

Bank secara logika tentu akan merasa nyaman untuk meminjamkan uang kepada calon nasabah yang memiliki rekam jejak yang baik, yakni calon nasabah yang memiliki kolektibilitas lancar.

Jadi, jagalah reputasi kita atau perusahaan kita, dengan membayar kewajiban kita kepada bank dengan jumlah kewajiban yang sesuai dan tepat waktu, termasuk kewajiban pada kartu kredit. Jangan sampai reputasi kita buruk dalam hal membayar kewajiban pada bank, karena akan menyulitkan kita ke depannya jika kita membutuhkan pinjaman lagi untuk keperluan yang lain.

Hendrik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s