Percaya karena dipilih

Nama saya Saefulloh dan ini adalah cerita saya.

Waktu itu pas lagi melamar kerja di salah satu restoran di Jakarta. Saat menunggu giliran interview, ada seorang calon karyawan yang kebetulan saat itu juga bareng-bareng sama saya namanya Ferdinand. Ya, yang namanya orang pertama kali ketemu ‘kan biasa aja kalau ngajak ngobrol. “Hai apa kabarnya?” lalu ngobrol-ngobrol deh kami, dan saya nggak tahu kalau dia itu Kristen.

 

Berjalan Tanpa Arah

Nah, yang namanya interview itu kan lebih dari sekali, waktu itu sampai tiga kali. Yang pertama masuk, yang kedua, dan sampai yang ketiga. Dan setiap kali datang, saya selalu ketemu samaFerdinand ini, kami ngobrol-ngobrol segala macem tapi nggak pernah ngobrol soal agama, tapi ngobrol ya soal pekerjaan atau yang lainnya.

Suatu waktu, kami semua diterima kerja disana…

Saya di mall daerah Kelapa Gading, si Ferdinand di cabang ruko seberangnya.

Hari itu, kos-kosan saya habis masa sewanya, mau nggak mau saya harus pindah. Malam itu saya pergi, hujan, dan nggak tahu mau kemana. Kalau pulang ke Bogor rasanya nggak mungkin karena jauh, apa lagi saya baru bekerja, dan lebih lagi ada punya sejarah yang kurang enak dengan saudara. Ya sudah, saya jalan deh di sepanjang jalan Cempaka Putih yang waktu itu agak banjir.

Terus, tiba-tiba si Ferdinand ini telpon saya,

“Ful, lu lagi dimana lu?”

“Gue lagi jalan nih.”

“Oh, mau kemana lu?”

“Nggak, mau nyari kosan baru.”

“Terus udah dapet belum?”

“Belum sih, lagi nyari-nyari dulu.”

“Gile lu, udah jam sepuluh malem gini. Yaudah ke rumah gue dulu aja.”

“Ah, ngerepotin gue.”

“Udah nggak apa-apa.”

“Gue kan nggak tahu rumah lu.”

“Udah gua jemput, ketemuan depan Masjid Akbar.”

Lalu saya jalan ke sana dan dijemput sama dia, dibawa ke rumahnya, dan kebetulan dia tinggal bersama ibunya. Mereka welcome banget sama saya dan kurang lebih saya tinggal satu bulan di sana, daerah Tanjung Priuk.

 

Awal dari Kasih

Suatu ketika pas pulang kerja, saya ngobrol sama dia, saya tanya sama dia,

“Nand, gue mau tanya dong.”

“Tanya apaan, Ful?”

“Kok, lu bisa sih percaya dengan orang yang baru lu kenal? Apa lagi sampe tinggal di rumah dan di Jakarta kaya gini, kita kan nggak tahu mana orang yang baik mana yang jahat. Kok, lu bisa sih terima gue boleh tinggal di rumah lu?”

“Ya, gue mau bantu lu, karena itu yang diajarin sama Tuhan gue.”

“Oh gitu?”

Nah, mulai deh dari situ dia mulai cerita. Walaupun saya akui, diapun bukan Kristen yang memegang teguh, bahkan dia punya pacar yang non-Kristen. Sayapun penasaran, kok bisa ada orang yang baik setulus itu. Nah, dari situ saya mulai sedikit-sedikit tanya sama calon pacar saya yang sekarang jadi istri saya.

Sebelumnya saya nggak pernah tanya soal hal agama, bahkan sebelumnya istri saya ini bilang, “Kalau memang kita jodoh, nggak ada keharusan salah satu ikut ke siapa, kalau bisa jalan masing-masing, ya jalan masing-masing.” Lalu saya ngomong, “Pengen tahu dong Kristen kaya gimana aja sih.” “Serius kamu?!” “Iya, serius.” Udah tuh, saya mulai diajak ke gereja.

Dateng pertama kali kebaktian saya nangis, nangis bukan karena denger kotbah, tapi nangis karena “Kok saya bisa ada disini?” Selesai kebaktian, saya pulang dan merenung, dieemm… Seperti ada sesuatu yang nunjukin “Kamu harus lihat ini, kamu harus lihat ini.”

 

Benih

Lalu saya bilang sama istri saya, “Kayaknya saya mau ikut apa yang kamu yakinin.” Dia kaget bukan kepalang. “Kamu serius? Ini bukan buat main-main loh. Ini bukan seperti pindah kerjaan loh, ini pindah agama, dan konsekuensinya bakal besar banget.” “Iya serius.”

Terus saya beranikan diri ngomong ke calon mertua saya waktu itu, dan reaksinya adalah marah. Dia bilang, “Kamu jangan main-main. Saya nggak setuju kamu pindah agama Cuma karena kamu mau nikah sama anak saya.” “Ya Pak, bahkan sebelum ini kami udah sepakat bahwa kami bakal jalan masing-masing, bukan karena saya mau nikah sama anak Bapak.” Tapi mertua saya nggak percaya, karena itu adalah alasan yang dipakai orang supaya bisa nikah.

“Saya udah pengalaman dengan yang beginian.” “Ya, kasih saya kesempatan. Kalau saya bisa konsisten, berarti Bapak bisa kasih izin ke saya.” “Oh silahkan, tapi kalau kamu ternyata main-main, nggak konsisten nanti pindah-pindah, saya akan lebih benci, karena agama bukan buat main-main. Karena kamu tanggung jawabnya bukan Cuma ke saya, tapi ke semua orang yang kenal kamu.” Begitu katanya.

Sempat saya mikir sih, tapi itu tadi, saya berkeyakinan bahwa saya mengenal Tuhan Yesus, saya menjadi orang Kristen bukan karena kemauan saya, tapi karena Tuhan Yesus yang pilih. Kenapa tiba-tiba orang bisa ambil resiko bakal dijauhin semua keluarga dan orang yang dikenal, dan dengan entengnya bilang, “Ya udah, jalanin aja.” Seolah ada yang bilang, “Tenang aja, pasti semuanya akan baik.” Tapi saya nggak tahu itu siapa.

Tiap Minggu saya mulai ke gereja. Sampai tiga-empat kali ke gereja saya selalu menangis, tetapi saya nggak pernah bilang kenapa saya menangis. Saya terbayang saya kebaktian di sini, ibu saya lagi beribadah di tempat lain.

 

Langkah Pertama Menuju Salib

Satu hal lagi yang bikin saya yakin kalau saya dibawa sama Tuhan Yesus adalah, biasanya orang yang pindah agama, orang bilang ke keluarganya dulu baru pindah. Tapi saya,  sebelum saya bener-bener mau pindah, saya bilang dulu ke orang tua.

Saya pulang ke Bogor sama istri saya. Ketemu ibu saya yang kebetulan ayah sama ibu saya sudah pisah, saya bilang ke ibu, “Saya mau ikut agama pacar saya.” Ibu saya langsung marah dan nangis saat itu juga. Orang biasanya lihat ibunya nangis, ya udah lah biar reda dulu kita turutin dulu aja. Tapi saat itu saya yakin bahwa apa yang saya jalani adalah benar-benar yang terbaik.

Saat itu saya kasih pengertian, “Nggak usah nangis. Saya memilih jalan ini pun toh nggak bakal jadi penjahat. Kalaupun nanti saya jadi orang nggak bener, umi (ibu) boleh salahin saya dengan keputusan ini. Tapi kalau saya jadi orang yang lebih baik, umi harus terima saya.”

Tapi karena saat itu suasananya lagi emosional ya, jadi sama sekali nggak mau denger omongan saya jadi tetap marah dia. Dan nenek saya pun sampai bilang begini, “Saya lebih baik kehilangan satu cucu daripada ada yang harus pindah agama.”

Wah, udah kebayang nih bakal sendirian. Seminggu setelah itu, teman-teman SD, SMP, SMA, teman-teman main di rumah dulu sudah pada tahu semua, dah akhirnya satu kampung tahu semua. Dan semua mulai menceramahi di media sosial, dari yang halus sampai yang kasar.

Kebetulan saya katekisasi dengan Pdt. Imanuel waktu itu, yang saya inget sampai saat ini, dia bilang, “Ketika kamu memutuskan mengambil keputusan ini, kamu harus siap memikul salib Tuhan Yesus.” Dan dengan entengnya saya jawab, “Oh, saya siap.” Padahal waktu itu saya nggak tahu memikul salib Tuhan Yesus  itu apa.

Begitupulang saya tanya istri saya, “Memikul salib itu apaan?” “Kamu nggak tahu?” “Iya, nggak tahu.” “Duh, kalo dijelasin takutnya kamu malah mundur lagi. Kamu jalanin aja deh.” Belum terasa waktu itu salibnya. Baru dari Facebook aja waktu itu, semua teman nge-unfriend sama block.

 

Harga yang Harus Dibayar

Tiga bulan setelah itu, saya pulang lagi ke Bogor dan waktu itu saya mau di babtis. Dulu pas saya pulang ke Bogor, semua teman-teman di gang nyapa, tapi waktu itu mereka melihat saya seperti melihat setan dan nggak nyapa. Sekalipun ngobrol ujungnya pasti selalu debat. Lalu keluarga pada ngumpul mulai nasehatin saya. Tapi entah kenapa hati bisa kuat banget saat itu.

“Kamu tuh kalau meninggal, nggak ada yang bisa nguburin kamu. Di sini nggak ada yang nerima kamu.” Begitu kata keluarga saya. Sampai saya mikir, wah iya. Sampai saya bilang saya mau dibabtis. Ibu saya bilang, “Saya nggak bisa cegah kamu, kamu sudah besar. Tapi kalu ditanya, saya tetap nggak setuju dan nggak bakal kasih izin sampai kapanpun.” Itu pulang kerumah yang paling berat karena ketemu orang berat dan saya berasa sendiri.

Takut bukan dalam artian takut dipukul, bukan. Takut ketika saya debat, yang kena malah ibu saya nantinya. Sampai saya pernah dapat kabar ibu saya sakit gara-gara denger omongan terus. Saya sampai datang ke Pdt. Nur saya tanya, “Bu, saya dosa nggak sih bu ketika saya menyakiti orang tua saya dengan cara saya mempertahankan keyakinan saya.” Bimbang banget, dan itu salah satu yang hampir bikin saya nggak jadi untuk dibabtis.

“Mengasihi orang tua, itu penting. Tetapi ketika kita mengasihi Tuhan, bukan jauh lebih penting, tetapi itu adalah suatu hal yang berbeda. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita juga sudah mengasihi orang tua kita. Kalau kamu masih ragu, itu yang namanya iman yang belum sempurna.” Begitu kata Bu Nur. Mulai agak lega, berarti apa yang saya lakukan nggak 100% salah.

Habis itu saya dibabtis, dan saya dibabtis pun nggak ada yang datang. Dan setelah dibabtis, tiga-empat bulan setelah itu saya mau menikah. Lalu saya pulang ke Bogor untuk minta restu sama orang tua. Yah, paling nggak ketika melamar istri ada satu-dua orang hadir, dan ternyata nggak ada yang hadir. Saya melamar istri saya sendiri dan hari pernikahanpun saya sendiri, dari keluarga nggak ada yang hadir. Ketika foto mempelai dengan keluarga, semuanya adalah keluarga istri saya.

Waktu itu yang memberkati saya nikah adalah Pak Roy. Dan sayapun sempat ngobrol dengan beberapa orang, saya ketemu Pak Im, “Pak, saya nikah nggak ada yang dampingi gimana ya?” “Nggak apa-apa mas Saeful, kalau memang Tuhan boleh kasih kamu kesempatan buat jalanin sendiri, ya dijalanin aja. Toh, saya pun pasti juga akan datang ke sana.”

Akhirnya saya melamar istri saya sendiri, dateng sendiri ke rumahnya. Tapi puji Tuhan, orang tua istri saya welcome. “Saya ngerti, saya juga punya anak yang pindah agama, dan memang nggak mudah untuk terima punya anak yang pindah agama. Jangan paksa ibunya untuk datang ke sini, kalau udah waktunya mereka akan datang sendiri.” Sedikit lega, walaupun sebenernya sedih. Saya dateng lamaran, saya siap-siap sendiri, mandi di kosan sendiri, terus telpon istri saya tanya udah siap belum, dateng ke sana sendiri juga.

 

Obat yang Pahit

Terkadang ketika saya dulu sendiri, saya sering nangis sendiri Sambil bilang, “Tuhan saya sanggup nggak sendiri?” karena semuanya ini rasanya berat sekali, terlebih bisa dibilang, apa yang akan saya jalani ini benar-benar lembaran baru.

Ketika malam retret babtis sidi, kami ada malam renungan. Kebetulan waktu itu lagu yang dibawakan itu adalah lagunya Nikita, “Seperti yang Kau Ingini”. Malam itu kami diminta untuk bikin surat, yang dimana bakal dikasih ke kita sendiri yang isinya curahan hati yang dipikirkan saat itu. Saya nulis sambal nangis, dan semua yang tadinya konsentrasi nulis jadi pada ngelihatin saya. Pertama saya tahan untuk nangis, tapi karena nggak kuat ya tetep nangis. Saya izin ke kamar mandi, cuci muka, baru dilanjutin.

Dan ternyata ini baru permulaan. Karena ternyata salib yang harus saya pikul itu bukan hanya dari lingkungan keluarga, teman, atau lingkungan sekitar, tetapi sampai di pekerjaan.

Saya kerja di restoran tersebut, dan akhirnya resign. Saya mau mulai bekerja lagi,dengan status KTP sudah baru, agamanya Kristen. Dan namapun saya tanya Pak Im boleh diganti nggak? “Saran saya sih jangan Mas Iful, nama ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa bagi orang lain.”

Lalu ketika mau menikah, kami kan harus ke kantor catatan sipil. Dan kalau ke catatan sipil, nggak boleh agama kita dan pasangan itu berbeda, maka dari itu KTP saya, saya ubah dulu jadi Kristen. Lalu saya datang ke RT RW, dan saya diceramahi. Saya dengerin aja mereka, lalu ujung nya saya bilang, “Nggak apa-apa, Pak. Pertanggung jawaban setiap orang itu sama diri mereka sendiri bukan orang lain.”

Di kelurahan lebih parah lagi, yang tadinya mereka pisah meja, mereka kumpul jadi satu mengelilingi menceramahi saya. “Pak, Bu, mohon maaf, kalau yang saya lakukan illegal, permohonan saya boleh ditolak. Tapi, kalo apa yang saya minta ini legal, tolong diproses. Yang lain-lainnya jadi tanggung jawab saya sendiri.” Merekapun langsung bubar dan puji Tuhan nggak dipersulit prosesnya.

Ketika awal mulai melamar kerjaan yang baru dengan KTP yang baru, ada yang menolak saya karena KTP saya Kristen. “Oh jadi begini ya.” Saya bilang ke istri saya, ternyata kemanapun Kekristenan itu saya bawa, saya harus siap untuk konsekuensinya. Saya sekitar hampir dua bulan menganggur dan posisi sudah menikah.

 

Embun Pagi

Suatu waktu saya dapat panggilan interview di daerah Bekasi. “Wah, Bekasi, jauh amat” saya bilang ke istri. “Ya udah datengin aja dulu, siapa tahu pekerjaan itu milik kamu.” Begitu jawabnya. Pertama interview di daerah Kelapa Gading di kantor pusatnya. Lalu katanya masuk, saya pergi ke Pondok Ungu. Itu dateng pagi-pagi, naik motor dan kucel lah saya karena container dan debu. Dan orang yang menginterview saya sudah illfeel duluan sama saya, “Kok, kamu kucel banget?” “Iya Pak, saya di motor.” Lalu di baca-baca resume dan dokumen-dokumen saya, dalam hati saya bilang, “Wah, ini pasti nggak keterima, mukanya nggak interest banget.”

Tapi begitu dia lihat, “Kamu Kristen?” “Iya Pak.” “Ikut ke ruangan saya.” Lalu dibawalah saya ke ruangannya. “Kok bisa kamu Kristen? Coba ceritain.” Ya saya ceritakan lah semuanya, jadi bukan interview, malah jadi kesaksian hehehe… “Wah hebat banget yah kamu.” “Hah? Apa hebatnya Pak?” “Iya, kalo kamu keterima kerja di sini, tapi kamu jangan cerita-cerita lagi ya soal hal ini. Udah, besok kamu siap mulai kerja ya.” Sayapun bengong seketika. “Kamu telepon istri kamu dulu, kamu kerja disini dengan gaji yang segini, istri kamu sanggup nggak? Karena istri kamu di Jakarta.” Saya telpon istri, dan iapun mengizinkan. Saya interview Sabtu, Seninnya saya mulai masuk kerja. Kemarin saya ditolak karena saya ikut Tuhan Yesus, sekarang saya diterima karena saya ikut Tuhan Yesus.”

 

Aku Seorang Kristen

Kebanyakan orang yang kesaksian tentang pindah agama, mereka menjelekan agama mereka yang dahulu, dan terkesan agama mereka yang sekarang adalah lebih baik. Saya pribadi, kepindahan saya ke Kristen, bukan karena saya dulu merasa nggak nyaman. Tetapi ini karena panggilan dan saya sudah dipilih untuk ke sini. Kalau ada orang yang bilang mereka pindah Kristen karena ada orang bisa menjawab semua pertanyaannya, menurut saya itu omong kosong. Karena Kristen itu nggak cukup dengan teori-teorinya.

Yang bisa bikin bertahan adalah Cuma itu, Tuhan sudah pilih kamu, mau diombang-aming kemanapun tetep dijagain. Saya pernah di fase suka berdebat; mana yang benar, mana yang salah. Tapi setelah lambat laun, saya merasa Tuhan saya nggak perlu dibela, dan saya pun nggak bisa membuat orang percaya sama Tuhan dengan cara saya debat dengan dia. Karena orang yang berdebat itu bukan cari kebenaran, tapi cari kesalahan.

Jadi jika saya ketemu orang lalu dia tanya, “Ful, kok lu bisa percaya sama Tuhan Yesus? Lu jelasin dong ke gue biar gue bisa percaya.” Saya jawab, “Lu kalau mau ngerti, lu harus percaya dulu.” “Nggak bisa gitu dong, gimana gue bisa percaya kalau gue nggak ngerti?” “Ya nggak bisa, kalau mau ngerti ya harus percaya. Karen gue percaya dulu baru ngerti.”

Seiring berjalannya waktu sayapun mulai berhenti berdebat. Jadi ketika ada orang yang ngomongin Kristen itu begini-begitu, yang pasti yang mereka lihat adalah yang diluar, yang saya rasakan adalah yang adalah di dalamnya. Sayapun dulu merasakan ada yang namanya peng-Kristen-an, ada orang kasih sembako biar orang jadi Kristen. Sedangkan ketika saya menjalani, saya mau jadi label orang Kristen yang dibabtis aja harus ikut katekisasi tujuh bulan! Dan itu susah!

 

Kertas Putih

Kalau ditanya sesudah dan sebelum hanya ada dua hal. Yang pertama, dulu saya merasa Tuhan itu adalah seperti sosok seorang raja, sosok yang harus saya takuti. Ketika saya di Kristen, saya bisa menganggap Tuhan itu Bapa, hampir dekat dan sedekat teman. Saya bisa ngomong kapan dan dimana saja, dengan Bahasa apapun juga, dan dalam keadaan apapun juga.

Yang kedua, dulu saya merasa diluar saya itu sudah pasti masuk neraka dan mati, mereka semua punya kehidupan yang salah, berbuat baik focus ke keluarga, lingkungan sekitar, dan diri sendiri. Tetapi ketika saya di Kristen, sebaik-baiknya orang Kristen, kalau berbuat baik ke sesama orang Kristen, itu biasa. Kalau kamu bisa baik kepada orang diluar kepercayaan kamu, itu baru luar biasa. Jadi kalau ditanya pencapaian tertinggi saya di Kristen apa? Ya, menghargai orang lain.

Ketika saya di Pemuda, mungkin agak sulit untuk mengajak orang membicarakan Tuhan. Jadi iman kita seharusnya ditempatkan dimanapun kita berada. Tujuan utamanya itu bukan saat kita di gereja, karena semuanya di gereja itu positif semua. Tapi ketika di luar, nggak semuanya positif.

Mungkin yang dari kecil Kristen, udah tahu semua tentang Tuhan Yesus; kita tahu tapi belum tentu mengerti. Ketika saya di Pemuda, saya bertemu dengan beberapa teman yang memiliki background yang sama; pindah keyakinan, seperti saya. Kami bertumbuh bersama, dan berkeyakinan bahwa kasih Tuhan Yesus itu bukan hanya untuk dibaca, kita terangin ke orang, mereka mengerti. Tetapi kasih Tuhan untuk dialami.

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepaada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Yohanes 15: 16-17

Advertisements

One response to “Percaya karena dipilih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s