Tipu-Tipu dalam Bisnis Boleh Nggak?

Waktu dikasih tema ini, saya agak bingung nih, soalnya belum pernah ngejalanin bisnis. Di kala orang-orang seumur saya lagi bekerja keras bikin start-up, saya sih lagi ngantor (kerja keras juga kok. Hahaha). Tapi kebetulan, salah satu alasan saya agak males untuk mulai bisnis adalah ke-idealis-an saya tentang hal tipu-tipu yang lagi dipertanyakan ini (alasan terbesarnya tentunya saya kok lumayan yakin kalo saya nggak ada bakat bisnis. Haha).

0a3cacdad4c3ef943382ee737e9230f4

Anyway, nggak tahu kenapa, di otak saya, bisnis itu identik dengan grey area. Atau mungkin kadang udah beneran black, tapi perlakuannya dijustifikasi karena “Yah… semua orang ngelakuin hal yang sama kok.” atau “Kalau nggak mau kayak gitu, pasti usahanya rugi, nggak ada untungnya”. Alhasil, saya mikirnya jadi pebisnis yang ‘ideal sesuai standar Tuhan Yesus’ itu susahnya setengah mati. Dan saya masih pengecut buat mulai sesuatu yang udah ketahuan susahnya. Jadi, two thumbs up dulu buat temen-temen yang udah memutuskan untuk masuk dunia bisnis.

Walaupun nggak pernah ngejalanin bisnis, ada cerita-cerita dari orang-orang yang saya kenal tentang hal-hal yang dipertanyakan, contohnya:

  • Kalau kita sebagai agent atau reseller, kita ngomong ke customer kita bahwa harga beli kita tinggi, agar kita bisa jual di harga tinggi, tapi pas ngomong ke suppliernya kita ngomong bahwa harga jualnya lagi rendah agar kita bisa beli dengan harga rendah.

Ini hal yang sepertinya lumrah banget dilakukan, bahkan katanya ini sebagai salah satu tips yang sering dibagikan diseminar bisnis.

Tapi, boleh nggak sebenarnya hal itu dilakukan?

  • Kalau ke luar negeri terus buka PO (pre-order) untuk jualan, boleh nggak? Apalagi kalau pas dicegat di bagian custom di bandara, terus ditanya: Ini buat apa kok belinya banyak banget? Terus ngomongnya: buat oleh-oleh, Pak. Tapi kenyataannya untuk dijual. Boleh nggak tuh?
  • Sekarang kan lagi popular banget nih bikin sesuatu yang customized, mulai dari case handphone, tas, dompet, dll. Nah, kadang ada yang buat dengan gambar tokoh Disney, Marvel, dan DC, yang harusnya kan, minta izin dan bayar royalty ke pihak terkait.

Jujur saya saja nggak kepikiran nih sampai sedetail ini, karna sudah saking terbiasanya kita ambil gambar dari internet terus dikreasikan sesuka kita dan di jual. Lagian, apa pedulinya Disney, perusahaan yang gede banget sama kita, yang jualan kecil-kecilan?

Tapi, sebenernya dan seharusnya, boleh nggak tuh?

  • Jualan sesuatu yang nggak asli, tapi terus ngomongnya barangnya asli dan dijual dengan harga asli.

Walaupun kesannya ini jelas-jelas bohong, tapi yang seperti ini pasti banyak yang beredar. Kalau nggak, pasti kita bisa tenang-tenang aja beli segala sesuatunya online dan di toko manapun, tanpa harus susah payah beli ke counter asli merk elektronik tertentu.  

  • Hasil bisnis kita itu harus kita bayarkan dan laporkan pajak nggak ya?

Mungkin ada lebih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran temen-temen yang ngejalanin bisnis, tapi maklum karna semuanya berdasarkan cerita orang, list saya sampai di situ aja.

Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bertindak dalam situasi kayak gitu?

Kalau tanyanya ke saya sih, sebenernya sederhana aja, kalau kita sempet bertanya-tanya “Ini boleh nggak ya?”, artinya dalam hati kita sendiri kita sudah tau kalo itu sebaiknya nggak dilakukan. Kita bertanya-tanya karena orang-orang lain melakukan, sehingga kelihatannya normal kalau kita juga melakukan itu. Malah sering kali, kita yang dibilang ngga normal kalau nggak ngelakuin.

Tapi terus saya dihujat: Ngomong doang gampang, kamu kan nggak pernah ngelakuin bisnis. Kalau semua lurus-lurus aja, nggak untung-untung nanti usahanya. Hahaha. *mesem-mesem*. Yah, makanya. Saya pribadi nggak mau bisnis ya karena itu. Karena saya nggak mau ada di posisi grey. Maunya yang jelas-jelas aja di white. *Ini kayak lagi belajar gradasi warna. Btw, sebenarnya dibidang professional juga banyak kok hal-hal yang ‘questionable’, tapi mungkin nggak sebanyak di bisnis ya.

Balik lagi ke bisnis, menjawab solusi yang praktikalnya, saya share cerita dari orang yang sudah ngalamin aja deh biar nggak dihujat no action talk only. Hehehe. Saya pernah ikut camp pemuda-pemudi dari suatu organisasi Kristen. Inti dari tujuan camp ini adalah bagaimana kita sebagai pemuda-pemudi Kristen bisa jadi professional dan pebisnis yang mencerminkan ke-Kristenan. Pembicaranya otomatis ada yang dari dunia professional ada juga yang dari dunia bisnis. Inti dari sharing mereka tetap sama: harus melakukan apa yang Tuhan Yesus akan lakukan saat ada di posisi kita. Jadi, setiap kali ada di posisi: Bener nggak ya ngelakuin hal ini? Kita harus tanya: Kalau Tuhan Yesus ada di posisi kita, dia bakal ngelakuin yang mana?

Di camp itu ada juga yang cerita: Dulu dia melakukan apa yang semua orang lain lakukan: Lapor pajak nggak bener, gaji karyawan nggak UMR, negosiasi harga bohong-bohong, dll. Tapi ada satu poin dia berbalik dan mau melakukan semua dengan cara yang benar. Laporan pajak yang benar, gaji karyawan langsung semuanya dinaikin UMR, kalau lagi negosiasi harga nggak bohong-bohong. Hasilnya? Ya awalnya pastinya susah, untungnya tipis malah rugi, uangnya jadi macet-macet. Tapi akhirnya sampai sekarang masih ada bisnisnya, dan yang paling penting: Dia menjalankannya dengan damai sejahtera, nggak hidup dalam bertanya-tanya.

Saya nggak mau menutup tulisan ini dengan: lakukan hal yang benar niscaya usahamu akan diberkati dengan untung melimpah.

Kenapa? Pertama, karena setahu saya sih Tuhan Yesus nggak pernah menjanjikan uang melimpah. Jadi kalau ngomong pasti dapat untung melimpah dengan melakukan hal yang benar sih kayaknya agak misleading ya. Setahu saya Tuhan Yesus menjanjikan kebutuhan yang dicukupi kalau kita hidup sebagai pengikut Tuhan Yesus.

Kedua, karena saya tahu, mau itu di bidang professional ataupun bisnis, bertarung di “dunia” dengan standar Tuhan Yesus itu nggak gampang. Kita akan jadi orang aneh, jadi orang ‘sok suci’, jadi orang ‘sok bener’, jadi orang ‘bodoh’. Nggak jarang kita malah jadi orang susah, bukan jadi orang ‘besar’. Tapi saya percaya menjalankan apapun di dunia (termasuk bisnis) dengan Tuhan Yesus pasti ada dalam damai sejahtera. Lebih gampang? Tentunya tidak. Tapi toh itu sudah jadi salah satu ‘syarat’ mengikut Tuhan Yesus yang sudah kita hafalin dari SD: menyangkal diri dan memikul salib.

Jadi, saya mau mengutip apa kata papa saya tentang ‘tujuan hidup adalah menjadi kaya’ yang sepertinya lumayan relevan: “Punya banyak duit itu bonus, yang bonusnya juga harus dibagikan untuk membantu sesama”. Jadi, dalam melakukan segala sesuatu (termasuk bisnis): jadi ‘kaya’ itu bonus, yang penting menjalankan sesuatunya sesuai kehendak Tuhan.

-Ts-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s