Berawal dari Papyrus dan Perkamen

Youth, pernahkah terpikirkan di benak kita, bagaimana asal usul Alkitab yang sekarang berada di tangan kita untuk kita baca? Nah, ternyata proses pencetakan Alkitab itu sendiri membutuhkan waktu yang lama. Tapi sebelum kita menyelidiki proses pencetakan Alkitab, ada beberapa hal yang harus kita pahami bersama, supaya kita memahami Alkitab dan seluk-beluknya secara utuh.

pexels-photo-241328

Alkitab adalah firman Allah tetapi Alkitab tidak identik dengan firman Allah

Kalimat di atas sering loh ditanyakan kepada kita ketika berada menjalani proses pembelajaran tentang firman Tuhan atau katekisasi. Apa artinya? Secara sederhana kalimat diatas mau menyatakan bahwa Alkitab bukan satu-satunya cara Tuhan menyatakan firman-Nya, sebab jauh sebelum Alkitab itu ada, Tuhan Allah sudah berfirman kepada seluruh ciptaan-Nya. Allah bisa memakai apa saja untuk menyatakan kehendak-Nya, misalnya: keberadaan alam semesta, peristiwa suka-duka yang dihadapi manusia, persahabatan, dsb.

Lalu apa isi Alkitab?

Secara garis besar, Alkitab berisi tentang Allah yang menyatakan diri kehendak dan karya keselamatan-Nya kepada manusia. Selain itu, Alkitab juga berisi kesaksian tentang manusia yang menyambut/menanggapi karya Allah. Jawaban manusia ini ada yang bersifat positif, artinya menyambut dengan iman, misal: Abraham; tetapi ada juga yang mulanya menolak, misal: Musa (Kel. 3:11, 13), Yunus (Yun. 1:1-3).

Pengilhaman Organis, pernah dengar istilah ini?

Alkitab ditulis secara organis, artinya manusia dalam “kebebasannya”, menuliskan Firman yang ia dengar dan terima dengan mempergunakan bahasa dan unsur-unsur kemanusiaan lainnya yang berpengaruh seperti kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya pada masanya. Para penulis Alkitab tidak menulis menurut kehendak pribadinya, tetapi menurut ilham yang diberikan Allah atau bimbingan kuasa Roh Kudus (2 Tim. 3:1b; 2 Ptr. 1:21). Penulisan yang demikian membuat Firman Allah itu dapat dimengerti oleh manusia, karena mempergunakan bahasa manusia.

Bagaimana Proses Kanonisasi Alkitab?

Alkitab mula-mula ditulis dalam lempengan batu, kulit kayu, lembaran daun papyrus (= “anyaman” tanaman pandan air), dan di atas perkamen atau vellum (= gulungan kulit binatang yang halus). Penulisan dengan cara seperti ini, riskan. Bisa saja di suatu waktu lembaran daun atau gulungan kulit binatang tersebut robek atau bahkan hilang. Oleh karena itu perlu adanya proses kanonisasi.

isaiah-scroll-l.jpg

Alkitab muncul setelah melalui proses penulisan. Penulisan itu sendiri tidak sekali jadi, tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama. Perjanjian Lama sendiri membutuhkan waktu kurang lebih 1000 tahun dalam penulisannya. Itu dikarenakan setiap kitab muncul pada zaman dan tempat yang berbeda-beda. Setiap kitab biasanya memuat keprihatinan atau menjawab kebutuhan umat, intinya adalah kesaksian iman Israel. Dalam penulisannya, selain memanfaatkan tradisi lisan, ada juga sumber-sumber lain yang dijadikan rujukan oleh para penulis kitab-kitab. Kitab-kitab yang ditulis itu kemudian disusun menjadi satu. Proses penyusunan kitab-kitab menjadi satu disebut kanonisasi (Yun: canon= batang pengukur, patokan). Jadi, kanon adalah sesuatu yang sudah diukur, dipatok. Jumlahnya dianggap sudah cukup, tidak perlu ditambah / dikurangi.

Kanon Yahudi ditetapkan pada tahun 90 M di Jamnia, dalam suatu sidang para rabi yang dipimpin oleh Rabi Johannan bin Zakkai. Kemudian kaum kristen dengan melewati proses yang panjang, akhirnya pada tahun 367 M, lahirlah daftar yang disampaikan Athanasius, Uskup Aleksandria dan kemudian ditetapkan menjadi daftar baku Kitab Suci.

 2 Sifat Alkitab yang perlu diperhatikan

  • Kanonik (kanon = patokan, ukuran). Artinya adalah bahwa Alkitab adalah patokan yang cukup, yang sudah diukur bagi iman yang benar. Melalui Alkitab, kita sudah dapat mengenal iman di dalam Yesus Kristus (2 Tim. 3:15).
  • Kesatuan. Artinya adalah bahwa Alkitab harus dipahami secara utuh (ada keterkaitan antara ayat/perikop/pasal/kitab yang satu dengan ayat/perikop/pasal/kitab sesudah dan sebelumnya), tidak boleh parsial (sebagian-sebagian). Sifat kesatuan dari Alkitab ini juga hendak mengingatkan kita agar menghindari cara penafsiran yang keliru terhadap Alkitab.

Keberadaan Lembaga Alkitab Indonesia

Guys, kita bersyukur hidup di era yang semuanya sudah terpenuhi, termasuk pemenuhan kebutuhan spiritual melalui Alkitab yang ada di tangan kita. Bayangkan saja generasi terdahulu yang bersusah payah mengumpulkan lembar demi lembar demi mencari firman Allah melalui Alkitab. Nah, melalui keberadaan Lembaga Alkitab Indonesia, bukan hanya kita – tapi seluruh bangsa di Indonesia – dapat terpenuhi kerinduannya membaca Alkitab sesuai dengan Bahasa daerah masing-masing.

Pada tahun 1950 bersamaan dengan diterimanya Republik Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, beberapa tokoh kristiani mulai memprakarsai berdirinya LAI. Sejalan dengan aspirasi kemerdekaan bangsa dan negara, timbullah keinginan untuk berdikari, bertanggungjawab penuh terhadap pengadaan serta penyebaran Alkitab.

LAI hadir untuk menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dan bagian-bagiannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah. Dalam upayanya tersebut LAI selalu berusaha menerbitkannya dalam bahasa yang mudah dimengerti, dalam bentuk yang menarik dan disukai, serta disebarkan dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat umum.

Menurut data dari LAI, sejak 1967 hingga 2013 mereka telah menerbitkan dan menyebarkan tidak kurang dari 465.914.261 eksemplar Alkitab.

Soooo?

Setelah secara ringkas kamu tahu gambaran besar mengenai Alkitab yang ada di tangan kita saat ini, lalu apa yang seharusnya dilakukan?

pexels-photo-27633.jpg

  • Hargailah kebenaran firman Allah melalui Alkitab dengan pembacaan setiap hari
  • Taruhlah Alkitab pada tempat yang baik, sebagai sebuah penghargaan atas rumitnya proses penulisan dan pencetakannya.
  • Bagikanlah kebenaran firman Allah kepada banyak orang supaya makin banyak yang mengenal Kristus sebagai juru selamat.

_____

Pdt. Febe Oriana (FO)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s