Alkitab dan Alki-Tab

Sebuah refleksi 

Beberapa tahun yang lalu sempat muncul dilema yang cukup keras, yaitu bolehkah menggunakan Alkitab digital yang ada di ponsel masing-masing untuk membaca Alkitab di gereja. Dan waktu itu, banyak yang masih melihatnya tabu, atau dalam bahasa lebih halus: Kurang enak dilihat. Bagaimana dengan saat ini? Di beberapa gereja ini menjadi pemandangan yang wajar. Sudah mulai banyak yang enggan membawa Alkitab versi cetak. Alasannya? Berat, besar, padahal, ada loh Alkitab mini yang ringan dengan ukuran 4 x 6 x 2,5 cm lengkap dengan kaca pembesar.

unnamed.png

Tetapi, kembali lagi, semua itu pilihan apakah mau meninggalkan Alkitab cetak dan menggunakan Alkitab digital atau tetap memakai Alkitab cetak. Saya juga tidak anti membaca Alkitab di ponsel, saya termasuk orang yang sering memakai Alkitab digital dalam keadaan tertentu. Hanya saja, di era yang serba canggih ini, saya kira masih tetap relevan kok menggunakan Alkitab versi cetak. Jadi, Alkitab atau Alki-Tab? Mari kita lihat dua saja pertimbangan utama mengapa Alkitab versi cetak masih dapat kita gunakan.

  1. Alkitab adalah simbol

Menurut sudut pandang liturgi, Alkitab merupakan simbol kehadiran Allah. Mengapa? Karena di dalamnya tertulis Firman Allah yang disampaikan melalui banyak orang dan banyak peristiwa. Masih percaya Alkitab adalah Firman Allah, ‘kan? Nah, makanya pada bagian introitus atau yang dikenal dengan “prosesi masuk” dalam kebaktian minggu, yang mendapat perarakan bukanlah pelayan Firman atau pelayan liturgi, melainkan Alkitab sebagai simbol Firman Allah.

Apakah ini berarti mensakralkan Alkitab? Tentu tidak. Ada begitu banyak simbol dalam kehidupan manusia, apalagi dalam ranah religius, manusia membutuhkan simbol. Bagaimana cara menghubungkan kehidupan manusia di masa kini dengan peristiwa penyelamatan Allah di masa lalu? Bagaimana cara mengkoneksikan kehidupan manusia masa kini dengan pengharapan akan kedatangan Yesus Kristus di masa depan? Tentu caranya adalah melalui simbol. Dan semua yang dilakukan di sepanjang ibadah kita di gereja adalah peristiwa simbolik yang terus kita bawa di kehidupan sehari-hari.

Lagipula, kita menyebutnya Al-Kitab yang berarti “Kitab di atas segala Kitab” dan Kitab Suci. Saya ingat betul kritik dosen saya, bagaimana kita seringkali membaca Alkitab di ponsel itu tetapi kita juga menggunakan ponsel yang sama untuk lakukan hal-hal yang kurang baik. Lagipula, ponsel kita juga penuh dengan aplikasi dan Alkitab hanya salah satunya. Saat membaca Alkitab, tidak jarang kita membuka aplikasi lain karena notifikasi yang masuk sehingga pembacaan Alkitab kita terganggu. 

  1. Beri dukungan bagi Lembaga Alkitab Indonesia

Nah, ini pertimbangan kedua yang perlu kita semua ketahui. Sadarkah kita bahwa tidak semua aplikasi Alkitab digital didukung oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)? Yang selama ini cuek dan tidak peduli pada lembaga ini, yuk bangun kembali kesadarannya. LAI adalah salah satu lembaga yang perlu kita syukuri dan dukung keberadaannya. Mengapa? Karena lembaga ini telah berjuang untuk meneliti, menerjemahkan, mencetak, dan menyebarkan Alkitab sejak berdirinya tahun 1950. Proses menerjemahkan tidak semudah memakai google translate loh. Butuh waktu dan dana yang besar. Bahkan tidak hanya itu, LAI berusaha keras mengirim tim survey ke suku-suku di pelosok negeri ini untuk mengembangkan Alkitab berbahasa daerah. Tujuannya, supaya mereka yang kental menggunakan bahasa daerah dibandingkan Bahasa Indonesia dapat mengerti lebih mendalam Firman Tuhan itu. Kenapa tidak kita dukung usahanya dengan hal yang paling sederhana: Beli Alkitab versi cetak. LAI sudah mencetak banyak Alkitab dan seringkali itu dibiarkan menganggur di toko buku. Bayangkan, berapa banyak kerugian yang dapat ditimbulkan kalau semua mulai beralih ke aplikasi digital, apalagi aplikasi yang tidak didukung LAI. Kita bisa mengeluarkan banyak uang untuk membeli banyak hal, yang kadang tidak perlu. Tetapi untuk membeli Alkitab? Kita cari yang gratisan. Padahal harga 1 buah Alkitab standar lebih murah daripada cheese cake yang kini ramai digandrungi.

Nah kalau ada yang mau memasang Alkitab digital, coba cek aplikasi Alkitab buatan LAI ini: Alkitab Digital Plus. Aplikasi ini tidak hanya tersedia di AppStore (Apple), tetapi juga di PlayStore (Android) dan dalam bentuk CD untuk dipasang di komputer.

(Sumber: http://www.alkitab.or.id/alkitab-digital-plus/)

Cek juga beberapa aplikasi Alkitab digital yang didukung LAI:

(Sumber: Indonesian Bible Society Facebook Page https://www.facebook.com/LembagaAlkitabIndonesia/photos/a.401671759699.175795.135115839699/10154415600684700/?type=3&theater)

Jadi, Alkitab atau Alki-tab?

Satu hal yang pasti, teknologi tidaklah jahat apalagi dosa. Tidak ada yang salah dengan perkembangan pengetahuan yang memajukan teknologi. Semua berasal dari hikmat yang diberikan Allah. Hanya saja, bagaimana kita menggunakannya dan apa dampaknya itu yang perlu kita perhatikan. Kita bisa menggunakan aplikasi Alkitab digital saat lupa membawa Alkitab cetak. Kita bisa memakai aplikasi Alkitab digital ketika kita butuh membaca Alkitab di waktu yang tidak terduga. Tetapi, untuk waktu yang khusus dan rutin seperti saat beribadah di gereja, alangkah baiknya jika kita memakai Alkitab cetak. Tapi pastikan, baik Alkitab cetak maupun digital, kita mendapatkannya dari jalur yang benar, dari sumber yang resmi. Jangan sembarang unduh aplikasi gratisan tetapi tidak memenuhi syarat perizinan dari sumber resminya, yaitu LAI. Jadi, selamat membaca Alkitab dan selamat menghargai Alkitab, termasuk semua orang yang berusaha menghadirkan Alkitab itu ke tangan kita.

_____

(XND)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s