How To Be A Right Lady

51oSHZwYVdL._SX331_BO1,204,203,200_.jpg

Judul Buku  : Lady In Waiting

Penulis : Jackie Kendall & Debbie Jones

Penerbit : Pionir Jaya

Menjadi seorang wanita (bukan cuma seorang gadis), tidak hanya membutuhkan waktu untuk mencapai usia tersebut. Tetapi juga dibutuhkan karakter yang dapat membuat seseorang layak disebut wanita.

Teristimewa lagi bagi seorang wanita dalam penantian, di dalam buku ini kita dituntun untuk belajar sepuluh sifat dari Rut. Isinya bukan memaparkan cara menemukan pria yang tepat, melainkan cara untuk menjadi wanita yang tepat dalam penantian.

Buku ini memiliki plot yang diawali dengan pengenalan akan diri kita sendiri, berlanjut dengan pandangan kita terhadap opini sekitar, hingga akhirnya kita diberikan bekal untuk menjaga penantian kita hingga waktunya nanti tiba.

Penekanan yang berkali-kali disebutkan dalam buku ini adalah konsep KEUTUHAN. Apabila bagi sebagian besar masyarakat, hidup seorang wanita baru menjadi utuh bila dicintai, menikah, dan menjadi seorang ibu, maka ini adalah konsep yang salah. Keutuhan diri kita hanya dapat diperoleh dalam Tuhan Yesus. Jika nantinya kita dianugerahi seorang pasangan, maka peran pasangan itu bukan mengutuhkan diri kita, melainkan perannya adalah melengkapi anda. Sehingga, ada dan tidak ada pasangan, tidak menentukan keutuhan diri kita. Bukannya kita tidak boleh bersedih ketika kehilangan pasangan, tetapi ingatlah selalu kita sudah utuh dalam Tuhan Yesus yang tidak akan pernah meninggalkan kita.

Di masa penantian tersebut (masa-masa single), kita diberikan banyak waktu luang, apabila dibandingkan dengan wanita yang sudah memiliki suami apalagi anak. Maka kita harus pergunakan waktu luang tersebut supaya bisa menjadi berkat bagi orang lain dan diri sendiri.

Tidak sedikit godaan dan opini orang lain yang akan menghantui kita dalam masa kesendirian kita. Di sinilah iman kita diuji. Allah tidak menghormati LOGIKA kita, tapi Allah menghargai IMAN kita. Iman tidak menghilangkan pertanyaan, tetapi tahu ke mana membawa pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang sering terpikirkan adalah mengenai siapa, kapan, dan di manakah pasangan yang tepat bagi kita? Pertanyaan tersebut tidak akan terjawab oleh logika, apalagi fantasi kita manusia. Tapi dengan iman, kita tahu harus ke mana membawa pertanyaan tersebut. Ya, kepada Tuhan. Ketika kita sedang dekat dengan seorang pria, coba bawa dia dalam doamu kepada Tuhan apakah ia orang yang tepat bagimu.

Dalam buku ini kita juga diingatkan untuk pencarian akan Allah, bukan cuma tangan Allah. Seringkali kita hanyan mencari tangan Allah Sang Pemberi. Kita lupa untuk mencari Allah yang seutuhnya. Padahal hanya kasih Allah yang dapat memberi rasa aman.

Kita juga diajarkan setelah merasa utuh dalam Tuhan Yesus, kita harus menempatkan dia selalu di tempat pertama, dan pacar di tempat kedua. Rasa puas tidak bergantung pada keadaan. Belajar merasa puas membutuhkan kebergantungan penuh pada Yesus.

Untuk anda yang sedang dalam penantian, buku ini sangatlah relevan dengan kehidupan kita. Nikmatilah “bekal” yang disiapkan dalam buku ini.

_____

Stevi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s