Kotaku – Tanggung Jawabku

(Sebuah refleksi kepedulian iman terhadap kota di mana kita tinggal)

Belakangan ini muncul kecenderungan bahwa gereja-gereja arus utama tampak semakin tua dan jumlah anggotanya semakin lama semakin berkurang, sementara wajah kekristenan tampil dengan munculnya konggregasi-kongregasi non denominasi, organisasi para church dan mega church.

Kondisi yang demikian memunculkan polarisasi yang semakin kuat dalam kehidupan bergereja di satu sisi dan kebingungan di sisi yang lain. Ketika saya masih remaja dan tinggal di kota asal saya (Cirebon), saya hanya mengenal tiga gereja saja: Gereja Roma Katolik, gereja Protestan dan satu gereja Pantekosta (yang sebetulnya juga masuk kelompok gereja Protestan). Tetapi ketika sekarang saya balik lagi ke kota asal saya, maka saya menjumpai ada beragam nama gereja di sana. Dan yang luar biasa adalah: Gereja yang satu berlomba dengan gereja yang lain untuk meningkatkan jumlah anggotanya serta pengunjung ibadahnya. Makin besar di anggap makin di berkati. Jadilah “mega church” di mana-mana, yang isinya adalah kepindahan orang kristen dari gereja yang satu kegereja yang lain. Tidak sedikit juga orang Kristen yang hadir di mana-mana: Pagi ke gereja A, siang ke persekutuan B, sore atau malam hari ke gereja C.

pexels-photo-524384

Kompetisi antar gereja itu kemudian mematikan etika hidup bergereja; gereja yang satu mendiskreditkan gereja yang lain, pendeta yang satu menjelekkan Pendeta yang lain. Nigel Biggar, seorang Profesor di Oxford University dalam tulisannya: Good Life: Reflection on What We Value Today, mengungkapkan: “Jika orang tidak dapat mengasihi saudara yang dekat, bagaimana dia dapat mengasihi saudara yang jauh?”. Pernyataan Biggar baik untuk menjadi refleksi bagi kita untuk mewujudkan panggilan missioner kita sebagai gereja di tengah konteksnya.

Panggilan missioner kita sebagai gereja bukanlah pertama-tama menjadikan gereja kita tampak besar secara kuantitas. Tetapi besar secara kualitas, yang kehadirannya mendatangkan berkat bagi banyak orang.

Belajar dari Carolus Borromeus

Carolus Borromeus (1538-1584) adalah Uskup Milano, sekali waktu dia menyempatkan diri mengunjungi orang-orang sakit di wilayah keuskupannya yang sedang di landa wabah mematikan yakni Pes (the black death), sebuah penyakit yang jauh lebih ganas dari penyakit kusta bahkan HIV-AIDS dewasa ini. Di tempat itu dia menyaksikan bagaimana orang-orang sakit berteriak histeris sambil menjulurkan kepalanya dari jendela rumah-rumah mereka meminta untuk di doakan. Saat itulah Carolus berusaha menghibur mereka semampunya. Namun begitu dia sampai di tempat tinggalnya hatinya seolah tercabik-cabik mengingat pemandangan yang baru saja di lihatnya. Diapun menangis keras-keras sambil bersandar di dinding kamarnya.

Semua itu memanggil Carolus untuk menjadi solider dengan penderitaan dan kesusahan orang-orang sezamannya – Itulah yang membuat dia berbela rasa dengan penuh kasih memikul derita. Pengalaman negatif sesamanya mengambil tempat dalam sikap imannya.

Bukankah situasi the black death itu juga yang saat ini sedang mendera situasi modern dan budaya kita saat ini, mendera kota kita. The black death yang mewujud dalam berbagai bentuk kejahatan: Tindak kekerasan dalam segala bentuknya. Kekerasan politik, kekuasaan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, agama, dan bagian-bagian lain dari kehidupan kita – Yang kemudian menampilkan diri dalam borok-borok kemanusiaan di sekitar kita.

Pertanyaannya kemudian adalah: Apa yang gereja kerjakan?

Tidak cukup hanya dengan ritual dan ceremonial betapapun itu tampak menarik dan memesona.

_____

Oleh : Pdt. Imanuel Kristo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s